Ads 468x60px

Pages

Selasa, 21 Juni 2011

BooHoonnng --

*BooHoonnng --
tatkala kau terbaring, tersembunyi daratan dalam lipatan-lipatan mimpimu, sebuah bangunan batu dengan dinding berlumut yang kliatan rapuh, langkahmu menuju kebanyak pintu, di balik sebuah pintu terbukalah ruang gelap dan kosong, suara seperti tergantung di langit ketika sedetik sebuah nyala yg memucat dari bola lampu diatasmu,”aku telah terbunuh….”, katamu, ketika sesosok manusia tergantung lemas diatasmu dan kau sangat mengenalnya.

Film Kartun---
Suara dari backstage:pilu dan jerit…
si pelacur menangis hingga demam, kukira ini semu…
tapi, kucing siapa yg tak lagi menyantap ikan karena mulutnya keluar busa


*Pesta Semut----
Gerak angin benarbenar sejuk
menggetarkan daun…. kusangka peluru melesat, seseorang tidur teriak “akh…”,
sebuah lubang berdarah di jidatnya, ia terbangun di siang itu lalu membasuh muka, kukira jerawatnya sedang meledak, ia menatap cermin tak percaya dan menyalahkan tak bekerja disiang hari.

*Puntung Roko’-----
tumpukan puntung roko’ di asbak semalam,
adalah cerobang dari keringat kata yang menetes,
setelah sebelumnya ia berlayar dan tersesat sendirian ,
ketika fajar menggelar subuh,
...tumpukan puntung roko’ di asbak semalam, dalam bisu…,
”sejuta kata seperti hendak diteriakkannya “

Terbakar lagi PasarKu

TerBakar lagi Pasarku---
sebuah kota yg gelap setelah api kecil padam dari hamparan tumpukan bara
Ya…, kuingat semuanya rumah juga pasar ku yang terbakar, hamparan gelap dan setumpuk putus asa…,
tengah malam hingga menjelang pagi , terjaga…dalam mimpi handai tolanku yang terlepas, wajah mereka memucat dengan tertahan dan rintihan. ia mengumpulkan tanah bakaran, memandangnya dan menemaninya bercakap-cakap. apakah aku mengenal ini sebelumnya ?.
yang tersisa hanya abu dari muntahan api , segalanya rebah, memucat…, meski mereka harus tetap berlajan bersama angin…..
maros, januari 2010

*Selalu Baru Wajahmu--

*Selalu Baru Wajahmu--
gerak malam selalu saja terjal menggaris tepi dengan warna-warni sepi , begitulah, dalam jarak ini pun selalu dengus angin mengirim berita dengan terbata-bata juga dengan pekik hewan malam

gerak malam selalu saja sibuk, melebam rindu mencipta bulan purnama
garis-garis wajahmu seluruh tersadap tersuruk di belantara malam
aku tahu keriuhan ini, sampai satu ledak yang mencipta ribuan cahaya : haha..ha..lebih, sering tak kukenali lagi ujud sepi ini, meski ia tetap mengendap dan tumbuh sendiri

fajar subuh menutup segala riuh, dan sebuah wajah di pelukku, wajah yang baru…

CeloteH.......Juni.

*bentuk yang tak terlihat, jadi terlihat keseberapa bentuk…
ia, hampir nyata dalam rindumu…
tapi, bukankah hanya kau seorang yg tahu…?


*sore dijejak bantaran sungai dan keterhelaan, tapi tutur sapamu kemarin itu tibatiba memecah sungai, ah... purba sekali rasaku ....segitu saja telah nyala senyumku.

*membayang esok , diamdiam sesuatu mengalir sangat deras kukira itu KITA

*mata kita berbeda warna juga tulisan dan gambar yg ada di dalamnya, kita pernah saling menulisya atoo saling gambar…, kulihat sesuatu saling tersimpan dan terbentuk disitu, aromanya menggambarkan banyak musim,juga menuliskan dingin yg dengannya kita saling menghangatkan, sesuatu terus tertulis dan tergambar disitu…mungkin bukan tentang kita lagi...tapi kita tetap ada diantaranya

*dan sepoi angin tempiaskan rambutmu, kaupun tersenyum, ekspresi itu memantulmantul bola mataku, tapi tempias angin itu hanya sekali, dan celakanya aku hanya dapat melihat......

*hayya Alal falah.....saling berkumpul memenuhi panggilan …l dan mengadukan perlakuan masing masing….meski Tuhan selalu tahu. maghrib kita

*sungai kecil dengan arusnya yg deras, sebuah perjalanan sampai kepintuku,lihatlah... aku ikan-ikan kecil di celahcelah batu yg slalu luput dari pandanganmu, tapi aku takjemu juga tak istirahat kalu2 kau mampirkan senyummu sedikit saja, sungai ini arusnya masih deras : aq meloncat loncat dari celah batu , ini sikap yg entah di terjemahkan atau tak terjemahkan sama sekali.....
*masih selalu dia, Yang terbit dari berbagai ufuk, dan tak pernah tenggelam untukmu, tapi sering kau lupakan : guru

*pucuk daun yang memucat diterpa sengat siang, diajaknya kita ketakutan, celakanyaa kita dengan terpaksa melihat terik siang men-jilat2 pucuk daun tersebut, hingga ia lunglai dan kerontang.

*sentuhlah Es batu kekasihmu ituuu, ia selalu bening jika menatapmu, serasa ia es batu baru saja jatuh dari surga.....

*daun daun kuncup menanti perubahan sore ke-malam, ato mungkin sedang khusyu menyapa langit yg tampak senja, aq tiada diantara mereka sebab musim panas membawaku serta: terasa panjang...terasa kuncup seperti daun tapi bukan khusyu...

*seperti citacita ku kecil dulu “membelikan ibu kompor dan kasur “ , ia tersenyum,
kini aku dengan kamus praktis sebagai pedoman kukatakan “, hendak membelikanki apa saja yg kau mau ibu….., tapi celakannya sedikitpun ia tak tersenyum.

*senyum rekah setelah kau menolongnya, sungguh sebuah lukisan hidup, melihatnya boleh jadi mereka berkaca atau mau mengungkapkan sebuah pandangan tentang nilai moral mungkin juga tentang sebuah estetika ...:f

*bentar lagi sayaaaang ya...., karena kirimanmu maniiiisss....dan sangat segar.....ke dagingku

*sepinggiran sungai dan jembatan ini beku dinginnya, bersenyawa…. aq menulisnya dgn kata “kangen”, Dingin kemarau tak henti menyelinap, Bila saja ia menjelma cahaya dan Q mengajaknya berdekapan.

Senin, 23 Mei 2011

Sedang Bisu---

sedang bisu, tapi tak hentihentinya mereka saling cari
Sedang bisu,tapi tatapan mereka tertinggal jauh pada sebuah memorial yang mereka cipta berdua
sedang bisu,tapi mereka tak percaya jika telah saling memeluk
dalam bisu disuarankanya semua kedalam hati, "penuh tangis kegembiraan".kukira.

*Malam Kudus----
Malam dengan sentuhan sunyi yang kudus
sebuah dunia hampa, wangi...dan sangat ramai
setelah ini, tak ada lagi apa-apa kecuali
kembali bangun sebagai ....manusia

Titik Hujan pada Bunga

Ia titik hujan menelusuri cita,
di basahinya bunga sebagai simpulan senyumnya sore itu, ia titik hujan tak peduli ada yang sejuk melihat bunga itu basah atau tidak,
ia hanya menyusun cerita tentang “sebuah bunga yg basah sendirian ketika bumi sedang kering kerontang,

suatu hari bunga berkata pada titik hujan , “akhirnya kudekap juga segenap kehangatan yg tersisa darimu, tapi aku sendiri mengerang hingga waktu tiba dan harus jatuh di taman ini jika tak ada yg memetik.

Minggu, 22 Mei 2011

Embun 7

Embun 9
Embun pagi, entah berapa lama memegang di ujung daun, menempel sendiri…menggantung pada selembar daun,
begitu sepi tatapnya….,tapi bukan hanya itu, panas menguapnya tak bersisa

Embun 10
Masih selalu begitu, datang… pergi…,lalu kembali,
tapi maafkan, ia hanya titik embun Meski tanpa pamrih datang padamu
katanya, “kau milik dirimu sendiri dan waktu tetap kans tanpa pernah-
berkedip pada mu….”,
Ia embun selalu pergi…datang… menyusurkanmu indah,
kalau-kalau kau tatap langit, dan ia turun kebumi juga turun ke hatimu

Embun 11
Setebal belukar jejaknya kemuaramu
tapi ia, embun yang tenang …terang…juga percaya diri
ia menyulut nyala rindu di kalbunya …sendiri…..
singgah sebentar lalu hilang disudut-sudut matamu, (jika kau meng-inkannya)
Jangan menerimanya juga mengusirnya: ia slalu pemaaf.