Ads 468x60px

Pages

Minggu, 24 April 2011

*Celoteh--


Celoteh 1
Sunyiku pada pena, sebingkai meja berwarna coklat kelu dan berdebu seakan lautan kata yang beku dalam dingin suhu. Sepucuk kertas membentuk perahu,

Celoteh 2
di layarku terumbu mu, Aku kemudi gigil, menggores gelisah: Aku cinta padamu...

Celoteh 3
Termakanlah dengan bujukku tuk menyimpang dari sebenarnya di hatimu,
katakanlah bahwa kau sangat membenciku..,
kaulah medan semantic itu…sayang, yang kuadopsi tuk menemukan diriku dalam segalagala, apakah aku telah menjadi struktur dengan membuatmu sebagai logika baru dalam semangatku…? Tidak…!!, kita adalah narasi mantra yang setiap saat bisa saling sihir….menjadi sesuatu yang kita sukai….lucu ya..?
(61...,jangan tumpahkan hidangan karena semantik, sayang...)

Celoteh 4
Secuil kisah itu hanyut di sudut mata kita, lambaiannya mengingatkan riak-riak yang membuncah menuju muara….,tak ada apapun jika kau......: tak menunggunya

Celoteh 5
Tanpa ragu, hujan itu meninggalkan habitat dirinya dari surga, ia melayang dan jatuh ke hatimu tanpa m-britau identitasnya.....

Celoteh 6
Hujan ini bening suaranya sayang....,tapi ia tetap tak sempurna...ia hujan hanya menyeyakkan tidurmu dan di esoknya...buatmu mencaricari sesuatu..mungkin tentang mimpimu tadi malam...

Celoteh  7
Runtuhkan saja sunyimu ke sungai, semoga riaknya, mengantar pada pantai yg tepat.
 
Celoteh  8
Ketika malam tak menjanjikan apaapa, aku menuliskan saja namamu pada kaca yg berembun itu
.
 

Jumat, 22 April 2011

*Sepi Sapa--

Sepi siapa melesatkan panah, sebuah jantung tertembus, tetestetes darah menahan laju detak jam,

Uh…3,4,5 nganga ditubuh, semakin banyak rahasia tertangkap …..:juga tentang sebuah jalan setapak, tempat sepi itu berkeliling-keling, (abadi)“mana ujungnya…?”,

kau harus pulang sayang …, dengan kejut yang kau bawa serta,
tentu pada kejut anak panah yang kesekian kali…, Sepi siapa?, atau :kita…?
---------------------------------------------------------------------------

---hujan ini bening suaranya sayang....,tapi ia tetap tak sempurna...ia hujan hanya menyeyakkan tidurmu dan di esoknya...buatmu mencaricari sesuatu..mungkin tentang mimpimu tadi malam.....
------------------------------------------
Aku menjelajahi saja tema-tema, sapa tau ada diantara kata tersebut yang dapat kurangkai sebagai kerajinan tangan, “… sekumpulan pandangan hidup yang khas menurut nilai estetika, dan kau mengenalku karena ini...
------------------------------------------------
Senja yang sempurna jika kau berani mengintipnya dari celah ventilasi kamar,
sebuah jebak, sekaligus gairah....tak siapapun tahu telah ke-sergap
----------------------------------------------------
lampu di kamar mandi menerangi dan sabun. melicin,
ya..sebuah kata yg lahir begitu saja (lepas dan merdeka)
aq mengembara..mengeja tiapbaitnya, kalau kalau terselip di kalimat itu,
"tapi, ini tetaplah kamar mandi?", kataku ragu...
------------------

*Aku Genangan di tatapmu---
Sebuah genangan gerimis”, kau tebak,
padahal telah ombak yang mengajak bermain, bernyanyi juga tenggelam..,
sore tadi di genangan itu, dalam  sekejap saja senja telah  pula tenggelam
degupnya meriakkan air menumbuhkan ganggang beruas-ruas,
serasa aku terpaku di tatapmu.
----------------------------

Nyanyi di kamar mandi menjelmakan taman,
         syahdunya mencipta jalan setapak ...
         melantunkan setapak jejak indah ,kukira itu kenangan....,
masih di kamar mandi dan berfikir tuk ---------berbuat yg lain.

Senin, 18 April 2011

*Masih di Punggungmu--

Masih di Punggungmu…dan aku tak peduli lagi apapun-----

serupa tebing sutra punggunggungmu kuusap hingga kepuncak.
tapi bukan hanya itu ..tahi lalat di tegas putih kulitmu berpendar
menjelma bunga ilalang…,
uh.. aku jemput yang beterbangan sayang.., ketika sore itu,
tak ada lagi jarak antara tatapku di tahi lalatmu,“Itu sihir…!?” ,
tapi aku rela menua setelah itu…abadiiii…


*Lukisan Mu…----
kelak, gerimis pagi tetaplah pelangi sore,
meski tak berucap lama…sungguh kau telah sempurna ku hadirkan
sebagai kata… syair..Eee puisi….atau bukan sebagai apapun.


*Menyebutmu Berkalikali---
Pada jendela inikah gelisah…,
atau malam-malam runtuh, mengapung…. gelisah,
aq Lenguh dik, pun meneguk kesedihan di Perahu yang kuberi nama sama dengan namamu.
Adakah jemarimu masih menggulung rindu, (sebab) pun di ujung tanjungini,
jantungku tetap melantun ombak menyebutmu berkali-kali…..

*Takjub----
Biar saja ia melekat…
Pada sesuatu yang tersirap kekanvas jiwa,
         serasa tiba-tiba mengenakan kepakkepak senja
         mengulum senyum  yang rahim

Tapi mengapa ?,
         kulihat ada yang menunggu hidup dan mati….deras indahmu sekali ini,
         ia pulang ke segala samudera, sebuah pemandangan
         di ujung tanjung ia cari,untuk dilukisnya sebagai takjub, (ini berlebihan )

Sekali lagi, ketika embun turun membekukannya ia tetap
                 bersimpuh dalam lukisan tersebut.

Minggu, 10 April 2011

*Apresiasi Catatan.__

Menangkap gelisah---

sore tadi, ia tertangkap dengan sudut mata, tapi indah itu, tanpa huruf-kata…,
tanpa apapun tertulis , demi Tuhan …ini bukan gugup,
dan sore menjelma malam, genangan tinta ini,
terbentuk seperti teluk melayarkan katakata ke samudera peluk- dingin memang…..
gemeretak pena ini menuliskan gelisahnya, “maaf, jika menyimpanmu ……”
--------------------------------Kaimuddin. Mbck.---Maros 25 Feb 2011.

------------------------------------------------------------------Apresiasi Puisi :
Dalam “Menangkap gelisah ”, adalah sebuah mimesis di sore itu, tentang ke-takjub-an pada sebuah rasa yang hinggap dimatanya, tapi…kenapa tak mampu menulis apapun,”tanpa huruf dan kata”, ia ingin menyampaikan bahwa sesuatu yg “ditangkap”, sebagai keindahan juga memungkinkan tersimpan sebagai gelisah meskipun melihatnya hanya dgn sudut mata.

Sesuatu yang tertangkap itu tidaklah lumrah menjadi huruf..kata ….atau apapun yang mesti harus tertulis, mungkin juga kata “tertangkap” itu sudah mewakili/tidak perlu dinyatakan dalam kata yang berbunga-bunga, atau disertai janji-janji muluk.
“demi Tuhan …ini bukan gugup”, disinilah letak problematikannya karena yang melihat dan dilihat keduannya telah sama-sama milik orang lain (mungkin..?) tapi ia juga sadar bahwa suka yang melahirkan cinta hingga Ke-sejati-an kadang bersifat misterius, esensial peristiwa menjadi lemah>terwakili dengan teks,
” terbentuk seperti teluk melayarkan katakata ke samudera peluk”, > tapi..sebuah “kesan”, yang sesungguhnya hidup …, tetaplah peristiwa yang harus tertulis meskipun dgn huruf yang gemetar atau untuk diri sendiri, sebagai bagian dari kegelisahan jika menyukai, maka ia hanya mampu menyimpannya saja, pula dengan kata maaf.

Obyek yang tertangkap dari sudut mata …apakah ia menyukai pula atau tidak… segalannya adalah gelisah yang harus tertinggal…juga harus tersimpan…dengan baik. ------------------------------------------------------------*Ulasan,“sihantutampan“.

Sabtu, 09 April 2011

*Jendela dari Kata_

*Seluruhmu telah Gerimis--
Kemudi ini gila sayang…ia terjemah rindu dalam lipat doa laksana surat terkirim tak beralamat, ketika itulah kau kata yang bermula dari gerimis ..dan tumpah menyergap seluruhmu, tak tersisa…. segalamu telah basah, “sebuah genangan gerimis”, kau tebak, padahal aku ......
Dari lipatan doa menjadi ....kata, menjadi .....gerimis, aku pantai dengan ombak tempatmu berlabuh

Sebelumku jangan Berhujan-hujan---
Tetes hujan melambai di kaca jendela, ia mencari alamat hatimu. Ia tak menemukan apapun selain sesuatu yang istimewa tentang dirimu, ketika sederas hujan membasuh seluruh pakaian dan tubuhmu, sebegitu pula aku terhanyut di lekukmu, setiap tetesku mendekapmu,
          Uuh..aku benci menyamar hujan, jika ini ....sesaat

Jendela dari Kata-----
Tak ada lagi tempat bertemu tuk mengeluh dan mendesah, sebelum pasti tempatmu duduk, sayang…aq huruf dalam teropong, yang menulismu secara acak, melimpahkan jejak basah

Huruf itu membentuk kata, lalu ….mereka-reka kalaukalau kau berangin-angin dekat jendela,
bilangnya, “aku desau kata mengiring skenario yang telah rampung untukmu,
........itu jika kau mengangguk sayang…”.

Rabu, 06 April 2011

*Embun-------

Ledak Embun--

Sebelum pagi dengan segala lembab, ketika mahluk masih tertidur dan suara2 malam hamper terhenti …Embun menggoyang goyangkan daun, seperti terpaksa membesar..meruang….
Lalu ledak …..dingin nya berhamburan kemana, tak terkejar. …,
sekarang musim salju ya..?

Embun---

Aku embun pagi yang menarikmu dari mimpi,
mengajakmu pada alam rahasia

Lihatlah disekitar mu, mimpi dan rahasia
selalu kering, tak terbaca

Meski aku embun, tak lagi mimpi, tak lagi rahasia jika hari terang,
tapi kau cemburu padaku, Ketika gerimis pagi tiba dan..... bersamanya aku meluncur
ditekuk daun pandan tanpa ada yg merasa memimpin dan terpimpin

tubuhku embun....yg mengajakmu pada alam rahasia
*Kaimuddin Mbck--Maros.17 Ags 2007.

Selasa, 05 April 2011

si Hantu Tampan__

Sembarangan aja aq ngomongin disini, mesipun kuingin ia tetap variatif serupa panorama alam yg qt miliki, liat aja kebaanyakan qt mulai berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke dimensi universal dalam re-karya teks. Mereka pergi meninggalkan lumbung-lumbung ide yang selalu setia menyimpan kekayaan estetis tersendiri. Matilah dimensi local yang menjadi kekuatan variatif/warna/i, matilah pula seorang penyair.., Huahaha...ha..ha...a (Yang terjadi kemudian adalah keseragaman yang menjemukan)

Bikin miqi teks jangMi liatki kenyataan sebagai kenyataan tersebut,(bingungki..?), kenyataan yg qt liat tdk di beri makna sebagai mana umumnya org memberi ma'na. sebab ada sudut pandang yg berbeda.(masih bingun ki' ?)haha..ha..Zaya pusing tong apa kubilang ini...

Yg slalu kita kaatakan itukan ya.. “kebenaran “, melalui “pembenaran-pemebnaaran “,yang terjadi secara individual. Tak ada satupun prosedur yg memungkinkannya menjadi kebenarana missal atau kolektif.

dan knapa mesti sembarang mengatakan >Bahasa ibu tidak memadai lagi untuk mengakomodasi simbol2 mutakhir yang kini bahkan telah melakukan persenyawaan dengan bahasa-bahasa visual.(tapi...tetep ki' pakeki bahasa ibu..tak banyak atoo ta' sedikit, kalo tidak hilang identitaski' itu cess......

Besok-besok kalo matiika...dan kata-kataq itu hidup, dan kau hanya menemukan makna dari teks tersebut;, EEeee.....tetapka itu hidup di hatimu cess..haha..ha..(kalo tak se7ki'...kuanggapki pelit...)dst....nantilah disambung ya...sayang...maaf ka kodong kalo salahka....sebab disini yg ada hanya sayangji..selaalu...

_________________________________ ______________ ___

*Bentukmu Abadi----
mendekati cekik yg sudah demikian malam dan dingin, seseorangpun tak ada yg menyela untuk berkata, “aku hidup”, kecuali….., ia yg menyelesaikan sebuah wajah, seorang diri.

jauh jarak hingga pagi, tak ada bunyi juga rindu, tapi malam tak sederhana ketika sebentar pagi wajahmu harus penuh kubuat.

Dinginmu Menancap Padaku-----
Aku sudahi saja…, sebab tidak ada lagi peristiwa yang lebih romantic dari sebelumnya, memulai awal adalah sesuatu yang belum pasti sayaaang…

yang pernah bertamu di wajahmu, mengetahui warna-warni air mata dan segala hasratmu...itulah kenapa, menyatu dalam..... hidup dan gelisahmu

andaikan cinta yang kukandung ini, menjelma jadi macan...aq tetap memanjakanmu saaaayyaaaaannnnnG, haha..ha...

tuk ngerti ke-tergesagesa-an kita, gimana kalo di ulangi -cinta pertama itu, tak peduli harus kesasar atau kita saling mencari.., haha..ha..ha...

Kau melihatku hidup ya..,dalam mimpi itu?, padahal aku hantu yg bermain di tidurmu, saat itu jangan coba tersadar, jika kau ingin aq tetap sebagai pengacau yang indah...haha..ha.haa...

karena angin pagi ini > Aku ingat kembali bulu matamu yang lentik dan kembali ingin sekali meniupnya, ahh.. aku bayangkan saja telah menemuimu dan melakukannya lagi..

perempuan malam bermunculan kukira ada 4.... kejut q bukan main, ternyata ada 5, sebagai aq diantarannya..

Aku Lonte, mengetuk pintumu dan... "Aku memutuskan untuk sebuah perpisahan yg indah dan jangan pernah ragukan ini......

dibawah pohon inilah sering kali kau kulahirkan...lengkap dengan udara malam (sering masuk angin), kopi yg cepat dingin dan seteguk kasih sayang.

sederhana(Nya), aku hanya ingin tetap ada. meski bukan dengan cinta...(addah...kukopipuisinya...)

sorot matamu telah cukup tuk kusejuk, meskipun belum cukup terbakar dalam api tatapanmu, kau sebut aq gila..!!?, kau yg m-buatku giiilaaa…

membuatmu tertawa tuh...sudah cukup/ serupa telah memeroleh perhatianmu..haha..ha..ha.., halo...bayangkan kepalaku dituker dgn kepala gajah...haha..ha..ha...uh.belalaiiikuu..panjang........

tersesat setelah sore tadi, seperti rindu hujan malam ini, terhempas.... lurus dan jauh, tik-tik-tik hujan enggan pulang...mungkin malam ini ia luka. (peristiwamu Bro

This march is mine, although with this course I'm willing to die., and you will medapati death flowering smile ...

Semoga… setiap detik adalah takdir yg ta’ terkira , jika demikian maka aq kan menangis sejadinya-jadinya….

*Santai Miqi.....

BUKAN PretensiAksiomaatauIdeologi. Anuji….Ee..berhentilah merasa diri jujur.
katakana saja dengan apa adanya, kukira refleksi tersebut sebagaimana udara melahirkan embun, atau air mengamplas kehalusaan batu, jika teks itu polos dan tulus…juga tak menjadi salah, sama ketika kita mengatakan sesuatu yang juga memang harus ada misalnya…tahi.., comberan,..bajingan , lonte…bangsat terkutuk, dll, segalanya adalah teks bahkan puisi,> kukira kau ingin mengataiku asal...atoo primitive…”tak apalah”..hehe..he..,(sampekanmi dgn tulus...apaadanya...seperti perasaanmu).

Bahwa kita bisa saja mencinta dunia, tapi dunia terlalu cantik untuk kita, susahnya deE…, jadi..bikin miqi saja teks/kata-kata biasa (jangmiqi anggapki puisi) dekatimi yang kau cintai itu dgn teks apa adanya sebab tidak mencintai seperti ki itu dalam penjara, jadi bebaskan dirita dengan katakata apa saja, mungkin itu adalah hiburan spiritual, atoo disitu ada ma’na yg dalam,..atoo dgn itu bisa bikin dia tersenyummm..haha..ha…Heba’ mi iTuuu cesss..

*Teriaknya--
dengan semua suara ……, ia heningkan seluruh jagad,
teriaknya lembab seperti bunga violet yg dihanyutkan disungai deras
teriaknya adalah layar..melintasi huluhulu.., sesekali ia jatuh dari curam air terjun.

Uh..!,ia tak bisa mendengar apapun…selain teriakannya sendiri…
detik-detik akhir itu, teriaknya mengambang di udara, menebar benih -benih rindu di sepanjang tanah tanah sungai,
teriak itu kini tanpa keheningan tanpa kelembaban tanpa warna-I, ia tertelungkup di musim dingin dengan kencana beku seorang diri…,
............................... ah.., tapi kematian sebelumnya telah ia lewati…

*Menjaga Bersama---
Keping hari yang dikerat matahari ketika kita saling asing… terkungkung dan menghianat,
maret ini resah sayang….,Kita be-baikan ya….,
biar aku mulai dengan menyuguhkanmu teh
membuatkanmu nasi goreng pedas kesukaanmu,tapi kau bilang “keasinan bang”,
senja bentar semua perih kita tanam di ladang
lalu duduk bersama menunggunya…, menjaganya…..tumbuh berhelai helai
(itu wajah kita ya..?)------

*Bentukmu Abadi----
mendekati cekik yg sudah demikian malam dan dingin, seseorangpun tak ada yg menyela untuk berkata, “aku hidup”, kecuali….., ia yg menyelesaikan sebuah wajah, seorang diri.

*Jerit Panjang---
Dialah pangkal tenggorokan yg sampai padamu, ketika kau meragukan sebuah sayang yg di titipnya lewat angin.

*Suara Itu----
Suara-suara menyeruak dari tempat dalam, berlumut dan tumbuh….
asanya melintasi ladang-ladang, bahkan menembus celah batang kayu dan batu,
masih suara itu ,tapi rambutmu telah ia simpul
dan masih suara itu tapi tubuhmu telah diselimutinya.

*Tak Apapun Selain..-----
telah (amat) banyak yang dikatakannya, bersamaan air matanya yg bisa mengalir kapan saja, bahkan alirnya lebih lama lebih dari segala kesangsian di kolong langit ini,
ketika semua tanpa peduli.
Ada apa …?,
”sebuah jerit panjang, sebab sesuatu mendorong sangat kuat.., juga jinak”.
mengapa ….?
” kehilangan gairah jiwa dan ….ini abadi bersamaku “
lantas….?
"aq tak ingin apa-apa lagi selain u/ dilahirkan dengan kasih, ya..dan tak
ingin apapun.... selain ini…!".

*Jendelamu---
mengendap kedekat jendelamu,
ku kira itu….. telaga tempat mu melepas lelah
atau terjaga dan tetap hangat,
Merangkak kedekat jendelamu, adalah…..
senandung dan bait puisi memunguti remah-remah nyala hayati
Mengintip kelubang jendelamu, bulan matahari tak lebih baik dari aku…………