BUKAN PretensiAksiomaatauIdeologi. Anuji….Ee..berhentilah merasa diri jujur.
katakana saja dengan apa adanya, kukira refleksi tersebut sebagaimana udara melahirkan embun, atau air mengamplas kehalusaan batu, jika teks itu polos dan tulus…juga tak menjadi salah, sama ketika kita mengatakan sesuatu yang juga memang harus ada misalnya…tahi.., comberan,..bajingan , lonte…bangsat terkutuk, dll, segalanya adalah teks bahkan puisi,> kukira kau ingin mengataiku asal...atoo primitive…”tak apalah”..hehe..he..,(sampekanmi dgn tulus...apaadanya...seperti perasaanmu).
Bahwa kita bisa saja mencinta dunia, tapi dunia terlalu cantik untuk kita, susahnya deE…, jadi..bikin miqi saja teks/kata-kata biasa (jangmiqi anggapki puisi) dekatimi yang kau cintai itu dgn teks apa adanya sebab tidak mencintai seperti ki itu dalam penjara, jadi bebaskan dirita dengan katakata apa saja, mungkin itu adalah hiburan spiritual, atoo disitu ada ma’na yg dalam,..atoo dgn itu bisa bikin dia tersenyummm..haha..ha…Heba’ mi iTuuu cesss..
*Teriaknya--
dengan semua suara ……, ia heningkan seluruh jagad,
teriaknya lembab seperti bunga violet yg dihanyutkan disungai deras
teriaknya adalah layar..melintasi huluhulu.., sesekali ia jatuh dari curam air terjun.
Uh..!,ia tak bisa mendengar apapun…selain teriakannya sendiri…
detik-detik akhir itu, teriaknya mengambang di udara, menebar benih -benih rindu di sepanjang tanah tanah sungai,
teriak itu kini tanpa keheningan tanpa kelembaban tanpa warna-I, ia tertelungkup di musim dingin dengan kencana beku seorang diri…,
............................... ah.., tapi kematian sebelumnya telah ia lewati…
*Menjaga Bersama---
Keping hari yang dikerat matahari ketika kita saling asing… terkungkung dan menghianat,
maret ini resah sayang….,Kita be-baikan ya….,
biar aku mulai dengan menyuguhkanmu teh
membuatkanmu nasi goreng pedas kesukaanmu,tapi kau bilang “keasinan bang”,
senja bentar semua perih kita tanam di ladang
lalu duduk bersama menunggunya…, menjaganya…..tumbuh berhelai helai
(itu wajah kita ya..?)------
*Bentukmu Abadi----
mendekati cekik yg sudah demikian malam dan dingin, seseorangpun tak ada yg menyela untuk berkata, “aku hidup”, kecuali….., ia yg menyelesaikan sebuah wajah, seorang diri.
*Jerit Panjang---
Dialah pangkal tenggorokan yg sampai padamu, ketika kau meragukan sebuah sayang yg di titipnya lewat angin.
*Suara Itu----
Suara-suara menyeruak dari tempat dalam, berlumut dan tumbuh….
asanya melintasi ladang-ladang, bahkan menembus celah batang kayu dan batu,
masih suara itu ,tapi rambutmu telah ia simpul
dan masih suara itu tapi tubuhmu telah diselimutinya.
*Tak Apapun Selain..-----
telah (amat) banyak yang dikatakannya, bersamaan air matanya yg bisa mengalir kapan saja, bahkan alirnya lebih lama lebih dari segala kesangsian di kolong langit ini,
ketika semua tanpa peduli.
Ada apa …?,
”sebuah jerit panjang, sebab sesuatu mendorong sangat kuat.., juga jinak”.
mengapa ….?
” kehilangan gairah jiwa dan ….ini abadi bersamaku “
lantas….?
"aq tak ingin apa-apa lagi selain u/ dilahirkan dengan kasih, ya..dan tak
ingin apapun.... selain ini…!".
*Jendelamu---
mengendap kedekat jendelamu,
ku kira itu….. telaga tempat mu melepas lelah
atau terjaga dan tetap hangat,
Merangkak kedekat jendelamu, adalah…..
senandung dan bait puisi memunguti remah-remah nyala hayati
Mengintip kelubang jendelamu, bulan matahari tak lebih baik dari aku…………