Ads 468x60px

Pages

Kamis, 17 Maret 2011

Puisi "Tong Sampah"___>13 Januari2011

Sesuatu yang bukan apa-apa ini dan tampa percaya diri kusebut saja "tong Sampah habitat-ku juga", menyusun kata-kata menjadi puisi--- sebuah peristiwa menenun dunia dan kehidupan untuk diri sendiri. Sedang khalayak ketika membaca puisi ini serupa dengan “masuk hutan rimba raya”, karena didalamnya teman-teman pembaca dapat saja menjadi pemburu atau mungkin juga awalnya menjadi petualang lalu tersesat,hehe..he..he...

Blog www.kaimud.multiply.com Sebagai tempat tinggal tulisan-tulisan saya tersebut, bagi teman-teman yang berminat mengajaknya keluar dari blog, saya harap memberi tahu saya terlebih dahulu di @kaimuddin mbck@yahoo.com. Dan ketika anda menemukannya sedang tercecer tanpa risau sama sekali >simpanlah di tempat sampah minimal ia tak kesasar lagi, karena tong sampah bagi puisi-puisiku juga membuatnya bertemu dengan ke-aku-anya/habitatnya, ok teman , ma kasih dah mo baca…

Sepi
Sepi adalah lidah api yang menjilat-jilat
Terdesak pada sudut-sudut gelap tempat segala perih di tenggelamkan
Wajah wajah bersetubuh, bugil, dingin, penuh ilusi ..imajinasi……
Disini terkubur lalu terlahir kembali, sebagai kata dalam “sepi..”

Rindu-Nya
ia, merindukanmu
silet bermata lebar, menatap paha, leher, matamu…..
tapi..kemana pergimu ketika sesosok tubuh, pucat meregang tanpa nyawa,
ia silet menembus jeruji besi, mencarimu……

Hujan itu
sering tak sempat bicara tiba-tiba saja ia menghambur ke gurun,singgahlah sejenak meninggalkan kesal,menghibur tangismu yang tertancap atau singgah menemukan hayalan yg lebih besar. Ia hujan tak pernah menegurmu

karena Aku Lelaki--
Pangeran dengan pedang ditangan menyelamatkan aku dari sebuah kurungan
aku benar-benar menyadari ketika sebuah jari lembut memapahku dgn kasih
sulit meminta berhenti sebelum benar-benar pagi
karena malam itu aku adalah wanita.

Dan senyummu mengentalkan Desember--
menarimu diketinggian hingga menyentuhkanmu pelangi, sebagaimana harapan nofember tuk menghadiahkan sayap tempat cita2mu kau semai. maaf aku juga menitip kalimat dari secarik kertas kumal yg kupungut, "kemanapun ruang semoga kau mengentalkan senyummu hingga desember", aku kan-menemukanmu, entah....

Sekejap saja--
Bulan bertengger di bulu matamu
jangan berkedip..... Ketika itu tatapanmu sihir
–sejauh memandang tumbuh lumut-lumut hijau
Senyumku tenggelam abadi, sebelum ....Kau kedipkan mata.

Lampu Jalan (2)
Lampu jalan menuntun kita melintas, mari...bergegas segera sampai ketujuan,sebelum cahayanya redup, di ujung jalan, lampu tadi-telah kita lupa, ia tak terlihat lagi di sisi dan ruang,aku menyesal tak menandai tatapan itu, tapi kau tertawa dan mengingatkan, oh… aku lupa jika tatapan lampu jalan tadi, sebuah kasih yg bersinar dari matamu.*27 des 10)

Foto itu--
Aku tak bertanya, mengapa foto itu tergantung di kamar, juga tak berusaha tahu apakah gambarmu itu risau atau senang, demi tuhan…!, foto itu, bukan apa-apa lagi saat kacanya buram karena lembab dan kau datang memebersihkanya, walau kau pergi lagi setelahnya.(27 des 10)

*Ia, api yg menjadikanmu tiada----

Tak dilalapnya sesuatu tanpa kesetujuan hatimu, sebagai kejujuran dalam nyala tubuhnya

seperti kemarin kaupun percaya ia melakukan isyarat cintamu dan sesaat ketika kau menghadiahkannya sesuatu >ia langsung melalap dan menjadikanmu abadi...
Ia api yang pernah bertamu di wajahmu, mengetahui warna-warni air mata dan segala bentuk jati dirimu, ia api …menyatu dalam hidup dan gelisahmu
Ia api, yang mungkin saja dapat menjadikanmu tiada...jangan pernah menetaskan janji-janji manis sebab ia tiada tanpa kau mengadakan, ia api selalu jujur dan sayang padamu…..(28 des 10)

Wajah Dalam Cermin--
wajah dalam cermin itu, menunjukkan cara berdandan yang buruk, aku sungguh konyol ketika menggosok debu yang menempel tepat di jantungnya.

demi tak melukai perasaannya aku mengingatkanya tentang taqdir, sedetik kulihat ia ber dehem, aku bingung, penapun kuraih sekadar menulis apa yang ada dipikirannya, dengan terpaksa ia mengingatkan,” tak perlu menulis takdir juga buah pikiranku, aku setuju kau membersihkan debu di jantungku, karena aku menyimpan sesuatu di balik itu ”, aku meninggalkan wajah dalam cermin, tanpa pernah mengerti mengapa ia melarangku menulis.

*Lampu Jalan (3)---
Lampu jalan tempat kita berdiri, bentuknya sederhana dan sedikit kasar, ia mungkin masih sangat terbuka dan polos, seperti sikap kita dulu, ketika …kita penuh kemalumalu-an
Lampu –lampu jalan tempat kita berdiri kini mulai berwarnawarni, apakah ini isyarat kau telah begitu lembut dan sangat tertutup ?, kali ini aku merasa, kita semakin kesasar sayang…
Aku ingin mengulang lampu jalan yang sederhana dan sedikit kasar itu saying…untuk dapat mengerti akan ke-tergesagesa-an kita, tentang cinta pertama itu, tak peduli harus kesasar atau kita saling mencari.., kita takkan berhenti kan..!

*Demi Gerimis Tak Membasahi Rambutmu---
aku bertaruh cepat dengan lari kabut yang hampir melemparmu dengan seganggam hujan
Sedetik sebelum ia mampir di tubuhmu, aku berloncatan seperti bunga-bunga api
Menutup rambutmu. Titik hujan pun kesasar sayang…..
aku memang brengsek untuk kau sebut pahlawan, tapi tak ada lagi persembahan selain ini, selain….. gerimis tak membasahi rambutmu.---maros 1 jan 2011 


Baju Untuk Anakku--
Dari tangan kurusku,
usailah aku buatkanmu baju dari jalinan kasih, dan meggambarkanmu
bulan dari rindang pohon yang kusemai sebagai motif
Semoga kau kenakan hingga hari tuamu, meskipun setelahnya kau hanya menemukanku dalam kenangan

*Senja Merah----
Senja kemerahan yang tertitip di wajahmu, bukankah ini hanya kebetulan, me-lihatmu-lah yang bukan kebetulan, karena setelah itu, semangatku seribu kali lebih kuat dari diriku sendiri, aku kemudian tak membutuhkan aba-aba untuk terus berlari. aku benci senja merah di wajahmu sayang…. Ia selalu tak lengkap jika tak menutupnya.

*Masih Rahasia---
aku tidak menyanyikan sepi agar kau merasakan, mendengar dan mengelusnya akan tetapi mengajakmu meletakkan telapak kaki dan terbang bersamanya. kau tetap tak menemukan kenampakan sama sekali, tapi kau paham bukan… bahwa rahasia tinggal tersembunyi dan tidak bicara ?

*Teks Ku----
Di setiap sepi dalam lengkung tubuhku adalah gelisah yang menyimpanmu sedari kemarin, aku dingin menyusur jejak, seketika itu pula kau menebal di mataku , mungkin kau cekikan ketika ruhmu hidup dari teks yang baru saja aku buat , yah…, masih serupa ini saja aku mengenali jejak dan memeliharamu dik…maaf

*Kepadamu Aku Selalu Kanak-kanak---
Aku selalu kanak-kanak menyatakan keindahan-mu, aku bukan penyair yang bergulat habis-habisan dengan puisi, dengan ini dapatkah aku menuntaskan janji,,, (akan menikahi lalu menelamu bulat-bulat sesuka hatiku)? matamu yang jelita menukik, uh..aku getar di bola mata itu, setelah ini aku semakin kanak-kanak…

*Dari jendela Kamar Tahanan---
di jendela kamar tahanan ini lah aku penuhi perutmu dgn coklat
milik supermarket di seberang jalan itu, tentu bukan apaapa sayang…
karena cinta memang selalu sederhana,
telah cukup kita bertemu sebagai dua orang asing yg saling memahami, aku memberimu minum di senja itu dan seperti petang kau menutup seluruh duka dengan kegelapan…

Dari jendela kamar tahanan kita selalu memecah sunyi dan itu sudah cukup untuk saling memiliki juga menghianati.
Kita terus berlari kan,
melumuri kanvas-kanvas dengan air mata atau kau mungkin sengaja menyimpan
senyummu kan, hingga…… kita kita saling merapatkan tangan dan berbisik.

0 komentar:

Posting Komentar